06 April 2009

LEMBAR 1

Langit,
hari ini mulai tersenyum padaku.
Pada orang-orang berjalan, pada jalan-jalan yang dilalui orang.
Meskipun bibirnya masih terlihat rapat,
namun raut wajahnya tak mungkin menipu,
ia tersenyum padaku bersama cahayanya yang cukup lembut.

Sangat berbeda beberapa hari lalu.
Ia selalu muram.
Menyembunyikan sinar di balik awan-awan tebal yang cukup menyeramkan.
Seperti wajah malaikat maut yang ingin segera mencabut nyawaku.
Dari kejauhan aku tak sanggup menatapnya.

Hari ini minggu,
ibu dan ayahku sudah pergi. Tadi. Pagi-pagi sekali.
Sebelum kendaraan bermotor merapat pada barisan yang semakin memanjang,
seperti permainan ular-ularan saja, masih berbaris acak-acakan hingga siang ini.

Aku memilih menyendiri di bawah pohon - tak tahu namanya - yang tak begitu rimbun.
Cukup jauh dari rumah.
Di hadapanku ribuan kendaraan lalu-lalang melindasi aspal yang kian terasa panas.
Alas kakiku, padahal cukup tebal, masih saja merasakan panasnya,
sungguh!

Aku sengaja tidak ikut mereka memulung, karena alasan sakit kaki, padahal kakiku tidak kenapa-kenapa.

Hee…

Ayahku yang balam
Ibuku yang mendalam
Semalam aku mengaduh
Pada kakiku terluka.

Kini perih menyengat
Membelit ubun-ubun
Berdiri aku tak tegak
Melangkah tak mungkin berjalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar