07 April 2009

LEMBAR 2

Bagiku,
hari minggu adalah dosa, bukan hari penyucian.
Karena sebelum adzan subuh menggaung dari banyak penjuru menara masjid
di kota ini, aku sudah menyiapkan sebuah puisi kebohongan.
Untuk ayah dan ibuku, serta untuk tetangga disekelilingku.

Aku hanya ingin katakan tidak!
Tidak memulung hari ini.

Karena,
untukku minggu adalah sakral
Untukku minggu adalah kehidupan
Untukku minggu adalah pesta.

06 April 2009

LEMBAR 1

Langit,
hari ini mulai tersenyum padaku.
Pada orang-orang berjalan, pada jalan-jalan yang dilalui orang.
Meskipun bibirnya masih terlihat rapat,
namun raut wajahnya tak mungkin menipu,
ia tersenyum padaku bersama cahayanya yang cukup lembut.

Sangat berbeda beberapa hari lalu.
Ia selalu muram.
Menyembunyikan sinar di balik awan-awan tebal yang cukup menyeramkan.
Seperti wajah malaikat maut yang ingin segera mencabut nyawaku.
Dari kejauhan aku tak sanggup menatapnya.

Hari ini minggu,
ibu dan ayahku sudah pergi. Tadi. Pagi-pagi sekali.
Sebelum kendaraan bermotor merapat pada barisan yang semakin memanjang,
seperti permainan ular-ularan saja, masih berbaris acak-acakan hingga siang ini.

Aku memilih menyendiri di bawah pohon - tak tahu namanya - yang tak begitu rimbun.
Cukup jauh dari rumah.
Di hadapanku ribuan kendaraan lalu-lalang melindasi aspal yang kian terasa panas.
Alas kakiku, padahal cukup tebal, masih saja merasakan panasnya,
sungguh!

Aku sengaja tidak ikut mereka memulung, karena alasan sakit kaki, padahal kakiku tidak kenapa-kenapa.

Hee…

Ayahku yang balam
Ibuku yang mendalam
Semalam aku mengaduh
Pada kakiku terluka.

Kini perih menyengat
Membelit ubun-ubun
Berdiri aku tak tegak
Melangkah tak mungkin berjalan.

02 April 2009

NAMAKU ZURNA

Namaku Zurna
Orang bilang gadis hina
Dari hasil senggama
Sepasang anjing galak
Dari kafilah tanah haram.

Dulu,
aku tak punya nama
Hanya seonggok daging bernyawa
Dibungkus kain bekas
Hanyut di sungai kampas.

Ibu-ibu miskin
Menemukanku dalam buangan
Tak sanggup menampung
Aku dicampak pada pemulung.

Kini remaja
Usiaku gadis belia
Tak pandai berucap
Seperti gadis-gadis wihara.

Namun aku
Ingin selalu berpuisi
Seperti penyair
Mengubah air mata
menjadi
mata
air.